Memberi Ruang Lagu Anak di Indonesia

Memberi Ruang Lagu Anak di Indonesia
 photo potrait adib hidayat_zpskhjcnq7k.jpg  Adib Hidayat

Setiap generasi melahirkan sejumlah musisi dan pencipta lagu yang fokus pada lagu-lagu anak. Tentu kita mengenal estafet lagu anak yang dibawakan bergantian dari mulai Sherina, Joshua, Tina Toon, Tasya, dan sekarang era Naura, Neona, Aura Gutawa, Maisha Kanna, Saga, sampai Zara Leola.

Film Kulari Ke Pantai dari Miles Films  yang disertai dengan dirilisnya album soundtrack yang salah satunya dibawakan penyanyii anak Meisha Kanna lewat lagu “Ibuku Cantik.” Miles Films dan Bekraf bahkan menggelar lomba lagu anak untuk merangsang lahirnya lagu-lagu anak di musik Indonesia.

Pertanyaan yang kerap mengemuka dan selalu berulang di kalangan media setiap membahas tentang lagu anak di Indonesia adalah kenapa perkembangan tidak sama dengan jenis musik lain untuk umum?

Selama 2-3 tahun terakhir ini praktis nama Naura yang banyak membuat nama dengan beragam aktifitas. Mulai film, album sampai pentas musikal. Dukungan dari labelnya Trinity Optima, membuat posisi Naura menjadi salah satu bintang dari wilayah anak-anak yang tak tersaingi. Terakhir Naura berhasil membawa pulang penghargaan AMI Awards pada 26 September 2018 lalu untuk kategori Artis Solo / Lelaki / Perempuan Anak-Anak Terbaik.

Ada banyak lagu anak yang banyak dirilis, namun tentu saja butuh strategi yang jitu agar bersaing dan bisa masuk dalam airplay di radio-radio terkemuka yang kebanyakan saat ini memutar lagu hits saja. Namun saat ini ada banyak cara untuk mengenalkan karya. Lewat Youtube, Facebook dan Instagram menjadi beberapa sarana tepat untuk mengenalkan karya dan berpotensi menjadi viral.

Salah satu lagu anak yang muncul dan mencuri perhatian saya adalah duo kakak beradik bernama Ghea dan Ghia dari Bandung yang merilis komposisi berjudul “Doakan Ayah.” Lagu ini diciptakan oleh Pidi Baiq, dari band The Panas Dalam yang belakangan populer berkat Dilan, novel yang dia tulis dan kemudian menjadi film box office.

Komposisi “Doakan Ayah” awalnya dibawakan oleh musisi, singer dan songwriter asal Malang, Iksan Skuter. Lagu tersebut kemudian dibawakan ulang oleh Ghea dan Ghia. Ardi Gumilar, ayah dari Ghea dan Ghia yang pertama kali saya yakinkan untuk lebih mengenalkan lagu ini secara luas.

Lirik lagu ini sangat kuat. “….Doakan ayah banyak uangnya. Kau mau beli apa? (Terimakasih Ayah). Tapi yang baik banyak waktunya. Ayah main denganku.”

Menurut Kimung dari Atap Class, yang juga mantan pemain bass Burgerkill lagu ini untuk menyambut Hari Anak Nasional 2018. Ghea dan Ghia merilis lagu “Doakan Ayah” karya Pidi Baiq, seorang seniman, penulis, musisi, sineas, dan juga dikenal sebagai Imam Besar The Panasdalam. Untuk memberikan warna baru ke dalam karya Ghea Ghia, aransemen lagu digarap oleh komposer Nissan Fortz.

“Doakan Ayah” merupakan sebuah esensi kerinduan dan keinginan seorang anak untuk lebih banyak bermain dengan ayahnya, sekaligus doa anak-anak bagi sang ayah dalam keseharian mencari rejeki demi memberikan kehidupan yang baik bagi anak-anaknya. Lagu ini menyentuh perasaan karena secara sederhana menampilkan sepenggal kisah sentimental mengenai kedekatan dan kasih sayang antara ayah dan anak-anaknya.

Sebuah konser tanggal 20 September 2018 lalu berjudul “Konser Doakan Ayah” berhasil digelar dengan menghadirkan beberapa pembicara yang membahas persolan lagu anak bersama  Pidi baiq, Anji, Kimung, dengan dipandu oleh Azizah Hanum dan Eddi Brokoli.

Dalam kesempatan diskusi pada saat “Konser Doakan Ayah” itu saya sempat mengusulkan untuk musisi-musisi terkemuka Indonesia saat ini merekam lagu anak-anak atau lagu dengan tema anak-anak.

RAN kemarin sukses melakukan hal tersebut di film Kulari Ke Pantai dengan lagu “Kulari Ke Pantai”, “Selamat Pagi” serta “Hijau dan Biru.”

Saatnya meramaikan musik Indonesia dengan lagu-lagu anak penuh gizi, dan media merespon dan memberikan cukup ruang luas untuk memutar dan mambahasnya agar menjadi asupan yang sesuai untuk anak-anak Indonesia.