Merawat Band, Menjaga Brand

Merawat Band, Menjaga Brand
 photo potrait adib hidayat_zpskhjcnq7k.jpg  Adib Hidayat

Dalam waktu dekat ini tiga band terkemuka dunia akan mampir ke Indonesia. Megadeth, unit thrash metal terbentuk 35 tahun lalu akan mengguncang festival musik JogjaROCKarta pada 27 Desember 2018 di Jogjakarta.

Guns N’ Roses yang terbentuk 33 tahun lampau tengah menjalani reuni antara Axl Rose, Slash dan Duff McKagan akan tampil di GBK, Jakarta pada 8 November 2018.

Judas Priest, legenda metal dunia asal Inggris terbentuk 49 tahun lalu akan menggelar konser perdana di Indonesia pada 7 Desember 2018 di Ecopark Ancol, Jakarta.

Dari Indonesia, God Bless akan merayakan ulang tahun ke-45 mereka dengan menggelar konser selama 2 hari pada 4 dan 5 november 2018 di Telkom Landmark Tower. Slank yang berusia 35 tahun akan menggelar konser ulang tahun mereka di GBK, Jakarta pada 23 Desember 2018.

Mempertahankan band lebih dari 30 tahun seperti Judas Priest, Megadeth, Guns N’Roses, God Bless dan Slank tentu bukan hal yang mudah. Pergantian anggota band dialami semua band yang saya sebut diatas. Namun sebagai semua brand mereka tetap solid terjaga.

Pertikaian atau komunikasi yang berakhir dengan mundur atau pemecatan kerap hadir dalam kisah-kisah band dimana saja berada. Namun mempertahankan band sebagai sebuah brand dan tetap bertahan melewati berbagai era itu yang menjadi pekerjaan rumah.

Digital telah membuat cara orang menikmati musik menjadi berubah. Fisik tetap ada, namun berkurang jauh. Walau kaset, CD dan vinyl terus saja ada yang mencetak namun streaming baik berbayar atau gratis menjadi cara orang menikmati musik saat ini. Panggung konser kemudian menjadi sarana efektif bertemu penggemar dan pemasukan paling cepat dan segar. Dari manajer, pemain band, teknisi sound, crew band dan panggung mendapatkan pemasukan yang jelas.

Upaya dengan terus melahirkan karya, mencetak beragam merchandise, menawarkan konsep tur yang menarik, membuat kemasan show yang memikat dan merawat dan berkomunikasi dengan penggemar lewat sarana social media menjadi jurus jitu untuk tetap mempertahankan band sebagai brand terus terpupuk.

Saya ingat bagaimana kelompok kasidah Nasida Ria sebelum tampil di Synchronize Festival 2018 dibuatkan merchandise menarik oleh Ruru Shop. Artwork Nasida Ria yang dibuat oleh Dwiky KA tersebut laris. Terjual habis beberapa menit saja saat acara mulai.

Menggunakan jasa fotografer profesional untuk segala jenis acara dan selalu memberikan asupan foto dan kisah-kisah dibalik konser menjadi salah satu cara agar band sebagai brand tetap ada dan hadir. Visual yang bagus, dramatis, dan memikat sudah menjadi keharusan. Akan lebih sempurna jika kemudian ada video yang menjadi after movie dari kegiatan menjelang, saat dan selesai konser.

Saya selalu menikmati video after movie yang dirilis oleh Padi Reborn, Seringai, Burgerkill, Endank Soekamti, Iwan Fals dan banyak lagi yang rajin memberikan materi-materi video bagus. Penggemar yang tidak hadir di konser jadi bisa merasakan atmosfer konser tersebut, pada akhirnya ada keinginan untuk hadir di konser berikutnya dari band tersebut.

Satu lagi yang penting adalah mendaftarkan karya lagu kepada penerbit musik terpercaya. Era metadata seperti saat ini sudah saatnya semua pencipta lagu mendaftarkan karya cipta lagunya kepada penerbit musik, agar hak ekonomi terus bisa dipantau dan terdata dengan baik. Mulainya kesadaran akan hal tersebut dan menjadikannya sebagai aset masa depan. Belajar untuk memahami bisnis musik ini.

Kita tidak tahu, kapan lagu lama yang tercipta akan direkam ulang kembali oleh banyak sekali talenta muda yang bertebaran diluar sana atau menjadi lagu untuk sebuah produk. Hendaknya kesadaran perlindungan terhadap karya cipta mulai dipahami mulai saat ini.