Rhapsody Untuk Freddie Mercury

Rhapsody Untuk Freddie Mercury
 photo potrait adib hidayat_zpskhjcnq7k.jpg  Adib Hidayat

Dalam acara Sore Hore yang dibuat oleh Kaskus dan berlangsung 25 November 2018 di Ampera Kemang saya mendapat sesi berbicara tentang tema Di Balik Musik Indonesia Memasuki Pasar Global bersama Ricky Virgana dari White Shoes and The Couples Company. Ada satu yang bertanya, “Kenapa lagu atau film dengan tema romance akan lebih mudah diterima di Indonesia?”

Saya menjawab, “Kalau di film Bohemian Rhapsody, Freddie Mercury tidak jatuh cinta dengan Mary Austin yang dia anggap memberi inspirasi balada cinta abadi, lagu “Love of My Life” belum tentu film Bohemian Rhapsody akan menjadi besar dan box office di berbagai negara seperti saat ini. Formula tentang kisah romansa diakui masih menjadi sajian yang memikat dalam format apa saja dulu hingga kini.

Dunia tengah dilanda demam Queen. Berkat film Bohemian Rhapsody yang tayang sejak 24 Oktober 2018 lalu film karya Bryan Singer tentang Freddie Mercury yang dimainkan dengan apik oleh Rami Malek berhasil membuat hidup karakter kharismatik vokalis Queen. Terutama sesi saat Queen tampil di Live Aid pada tahun 1985 di Stadion Wembley, London.

Berbagai acara di Indonesia kemudian latah terkena sihir lagu-lagu Queen banyak mengundang band yang bisa membawakan Queen. Komposisi “Bohemian Rhapsody” menjadi salah satu lagu paling banyak di dengar di berbagai layanan musik streaming seiring dengan film yang tengah tayang di bisokop di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang belum ada tanda-tanda akan turun di bulan kedua.

Bayangkan, lagu klasik “Bohemian Rhapsody” berdurasi 5.55 menit dari album A Night at the Opera (1975) berusia 43 tahun ini kembali diputar di seluruh dunia bersanding dengan lagu dari penyanyi muda Ariana Grande, Selena Gomez, Halsey, Travis Scott atau Post Malone.

Saat ini film yang berbiaya 50 juta dollar ini telah menembus angka 472 juta dollar, menjadikan film ini sebagai salah satu film biopik musikal terlaris dalam sejarah.

Dari kesuksesan film Bohemian Rhpasody ini saya membayangkan siapa sosok atau band Indonesia yang layak dan pantas dibuatkan film seperti ini. Sebelumnya kisah Chrisye, Slank, dan Benyamin.S sudah diangkat ke layar lebar.

Masih banyak nama-nama yang bisa diangkat menjadi film biopik yang apik dan memikat di Indonesia seperti Achmad Albar, Koes Plus, atau Iwan Fals.

Salah satu yang tengah digarap adalah film dara Puspita. Tentang 4 perempuan Indonesia yang sukses tur keliling Eropa di tahun 60’an dan 70’an saat band-band rock Indonesia lain masih bermain di negaranya sendiri.

Di dunia internasional sendiri tengah menunggu film Rocketman (2019) yang berkisah tentang Elton John. Satu lagi film The Dirt (2019), tentang band rock berbahaya Motley Crue.

Setelah demam Queen, apakah dunia akan terkena demam Motley Crue dan Elton John di tahun 2019?